Kerjasama APEKA Dengan Fakultas Pertanian UNIBA Surakarta

Pada hari Rabu 25 Oktober 2017 telah dilakukan kerjasama antara APEKA dengan Fakuktas Pertanian UNIBA Surakarta. Kerajsama dilaksanakan di kampus APEKA Karanganyar. Naskah kerjasama ditandatangi oleh Direktur APEKA, Ir. Damaryanto Widharto, MSi dan Dekan Fakultas Pertanian UNIBA , Ir. Much Ikhsan, MP.

Dilansir dari LINTAS1, SOLO – Peningkatan kualitas dosen dan profil lulusan menjadi target utama Fakultas Pertanian Universitas Islam Batik (UNIBA) Surakarta pada tahun-tahun ke depan. Fakultas Pertanian yang saat ini memilik tiga program studi, yaitu Agroteknologi, Agribisnis, dan Peternakan, berusaha untuk mencapai target tersebut.

Akreditasi program studi sebagai pengakuan eksistensi menjadi salah satu agenda kerja yang dilakukan terus-menerus. Salah satu kegiatan untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan dilakukannya kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi dan institusi yang ada di Solo Raya.

Pada Rabu (25/10/2017), bertempat di Ruang Pertemuan Akademi Peternakan Karanganyar (APEKA), berlangsung acara ceremonial penandatangan MoU antara Fakultas Pertanian UNIBA Surakarta dengan Akademi Peternakan Karanganyar (APEKA). Penandatangan dilakukan oleh Dekan FP UNIBA, Ir. M. Ihsan, M.P. dengan Direktur APEKA, Ir. Damaryanto Widharto, M.Sc.

Kerja sama antara FP UNIBA dan Akademi Peternakan Karanganyar (APEKA) ini diharapkan dapat terealisasi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dijelaskan oleh Direktur APEKA bahwa APEKA memiliki keistimewaan di dalam kesehatan ternak, utamanya pada inseminasi buatan dan vaksinasi ternak. Oleh karena itu, Prodi Peternakan UNIBA dan APEKA dapat berkolaborasi di dalam hal ini.

Sedangkan, Dekan FP UNIBA mengemukakan bahwa ciri khas Prodi Peternakan UNIBA adalah menghasilkan produk industry peternakan yang halal dan thoyyib, sehingga keduanya dapat saling mendukung dan memperkuat.

Lebih lanjut Dekan FP UNIBA mengatakan bahwa peternakan merupakan program studi yang lebih banyak aplikasi di lapangan sehingga tidak salah jika sebagai program studi yang baru di Fakultas Pertanian UNIBA, dosen dan mahasiswa peternakan melakukan pendekatan dan bersinergi dengan APEKA yang sudah memiliki banyak keterampilan, laboratorium, dan kemampuan teknis di bidang peternakan. (ian)

Kegiatan Mahasiswa Di Desa Girilayu

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry’s standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop publishing software like Aldus PageMaker including versions of Lorem Ipsum.

Bupati Apresiasi Kerja Sama Akademi Peternakan Karanganyar dengan Universitas Taiwan

KARANGANYAR-Bupati Karanganyar Juliyatmono mengapresiasi kerja sama Akademi Peternakan Karanganyar (APEKA) dengan Cheng Shiu University (CSU), Taiwan. Selain itu, Yuli juga mendukung APEKA bertransformasi menjadi politeknik.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran yang penting untuk mencapai target ekonomi dengan melakukan pembangunan yang berkelanjutan di suatu daerah.

“Peran perguruan tinggi dalam pembangunan yang benar-benar berkelanjutan harus memperhatikan ekonomi yang berkualitas, dan memperhatikan pembangunan sosial,” ujar Bupati.

Kepada wartawan, Yuli mengaku mendukung penuh kegiatan tersebut. Ia berjanji bakal menindaklanjuti undangan pihak perwakilan Cheng Shiu University (CSU) untuk berkunjung ke Taiwan.

Di samping itu, Yuli juga mendukung rencana APEKA yang akan bertransformasi dari akademi menjadi politeknik dengan tiga program studi (prodi) baru.

“Kami mendukung penuh APEKA menjadi Politeknik bisa segera diwujudkan dengan tiga program studi,” imbuh dia.

Sekedar diketahui, APEKA menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Cheng Shiu University (CSU), Taiwan, Sabtu (25/3) pagi. Penandatanganan dilaksanakan di Ruang Athorium Komplek Rumah Dinas Bupati Karanganyar.

Direktur APEKA, Damaryanto Widharto, mengatakan, APEKA telah menjadi kampus peternakan selama 32 tahun. “Untuk meningkatkan eksistensi APEKA menjalin kerja sama dengan CSU, tahun kemarin mengirimkan satu mahasiswa ke Taiwan,” terang dia.

Di bagian lain, perwakilan Cheng Shiu University (CSU), Taiwan, Shuenn-Ren Cheng (Mr Tomi), menjelaskan, jalinan kerja sama dengan APEKA telah terbangun 1 tahun lalu.

“Kami mempunyai hubungan dengan APEKA. Mahasiswa Sri Wahyono merupakan salah satu mahasiswa terbaik di CSU,” kata dia.

Pendidikan Tinggi Indonesia Butuh Penguatan Budaya Mutu

Jakarta – Pendidikan Tinggi memiliki peran besar untuk mencetak lulusan yang berdaya saing dan memiliki kompetensi, terutama dalam menghadapi era persaingan global atau yang dikenal dengan sebutan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Mengingat pentingnya kualitas lulusan yang berdaya saing dan kompetitif, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi melalui Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan meluncurkan program inovatif bernama Klinik SPMI (Sistem Penjaminan Mutu Internal) yang bertujuan untuk meningkatkan mutu program studi pendidikan tinggi di Indonesia.

Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Intan Ahmad menyebutkan bahwa upaya peningkatan mutu program studi harus dimulai dari internal pendidikan tinggi itu sendiri. “Mutu bukan sesuatu yang didapatkan universitas dari pemerintah saja, namun harus disadari bahwa internal pendidikan tinggi, baik dari segi kualitas dosen hingga sistem pembelajaran, juga perlu diperhatikan oleh universitas. Oleh sebab itu, Klinik SPMI ini akan membantu pendidikan tinggi untuk meningkatkan kualitas dan mutu program studinya,” kata Intan kala menyampaikan sambutannya dalam acara Coffee Morning sekaligus soft-launching Klinik SPMI di Gedung D Kemristekdikti Senayan, Jakarta (29/07).

Klinik SPMI merupakan layanan masyarakat berupa bimbingan teknis yang diperuntukkan bagi entitas perguruan tinggi agar lebih memahami SPMI dan SPM-Dikti (Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi), serta yang lebih penting lagi adalah untuk meningkatkan kesadaran membangun budaya mutu. Klinik SPMI memberikan layanan informasi berupa FAQ melalui sarana online maupun offline dan interaktif tentang bagaimana membangun budaya mutu di perguruan tinggi Indonesia, serta memberikan usulan solusi yang efektif terhadap segala tantangan yang dihadapi dalam mengakarkan budaya mutu pendidikan tinggi.

Senada dengan itu, Direktur Penjaminan Mutu Ditjen Belmawa Aris Junaidi mengatakan bahwa untuk meningkatkan mutu hidup manusia Indonesia, hal pertama yang harus dilakukan ialah melalui peningkatan mutu pendidikan dan pengajaran. “Sesuai dengan revolusi mental nawacita Presiden RI Joko Widodo, sangat kuat dan jelas disampaikan bahwa peningkatan kualitas SDM harus dimulai dari mutu pendidikan tinggi. Jadi, jika kita ingin mengharapkan lulusan yang berdaya saing, maka peningkatan mutu inilah yang harus kita prioritaskan”, ucap Aris dalam presentasinya.

Sebanyak 14 fasilitator pusat dan 200 fasilitator wilayah akan memberikan layanan Klinik SPMI dan juga audit internal. Penerima layanan Klinik SPMI cukup komprehensif, meliputi pengelola perguruan tinggi, dosen, mahasiswa hingga masyarakat umum.

Diharapkan masyarakat dapat mendukung program pemerintah ini, sehingga kebermanfaatkan program dapat segera teralisasikan dampaknya bagi peningkatan kualitas pendidikan tinggi yang berkelanjutan.

Ritech Expo 2016 Solo Berakhir

SOLO – Pameran Ritech Expo 2016 resmi ditutup. Gelaran tahunan dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ( Hakteknas) ke-21 ini ditutup dengan penancapan gunungan oleh Sekretaris Jenderal Kemristekdikti Ainun Naim pada Sabtu (13/8) sore di GOR Manahan, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Menurut Ketua Penyelenggara Pameran Ritech Expo 2016 Nada Marsudi, penyelenggaraan Ritech Expo tahun ini merupakan penyelenggaraan Ritech Expo yg terbesar selama 21 tahun terakhir. Pada Ritech Expo 2016 diikuti oleh 90 instansi terdiri dari 31 Perguruan Tinggi dan Politeknik, 6 LPNK, 11 Balitbang Kementerian, 12 Balitbang Daerah, 11 industri, dan 19 program unggulan dan satuan kerja Kemristekdikti. Ritech Expo 2016 menampilkan 155 stand yang terdiri dari 140 stand indoor san 15 stand outdoor.

Selain itu, Nada Marsudi melaporkan bahwa selama 4 hari penyelenggaraannya, Ritech Expo 2016 mampu menarik antusiasme masyarakat Kota Surakarta dan sekitarnya. Hal ini terlihat dr jumlah pengunjung Ritech Expo 2016 yg mencapai 17.000 orang.

Pada sambutannya, Ainun Naim menyampaikan terima kasih kepada warga masyarakat dan pemerintah kota Surakarta yg telah mendukung terselenggaranya Ritech Expo dan seluruh rangkaian peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-21.

Selain itu, dalam sambutannya, Ainun Na’im menyatakan bahwa pameran ini penting utk mengetahui dan merasakan kebesaran bangsa Indonesia. Salah satu kebesaran bangsa Indonesia adalah hasil karya inovasi anak bangsa di berbagai bidang. Contohnya di bidang kesehatan, Indonesia mampu menghasilkan alat-alat kesehatan berkualitas setara dengan produk luar negeri namun dengan harga yg jauh lebih murah dibanding produk luar negeri.

Kemudian di bidang transportasi, Ainun Na’im mencontohkan kemampuan Indonesia dlm menghasilkan moda transportasi berbasis energi listrik seperti sepeda motor listrik dan mobil listrik.
“Bangsa Indonesia memiliki kemampuan menghasilkan teknologi baru untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia,” tekan Ainun Nai’m.

Di akhir sambutannya, Ainun Na’im mengajak seluruh komponen masyarakat untuk meningkatkan komitmen untuk memanfaatkan produk dan hasil-hasil inovasi anak bangsa. Pada gelaran penutupan Ritech Expo 2016 Sesjen Kemristekdikti menyerahkan 3 penghargaan utk peserta pameran antara lain penghargaan stand terinovatif, penghargaan stand terfavorit, dan penghargaan stand terbaik.

Penghargaan stand terinovatif diberikan kepada stand dengan produk inovasi yg beragam dan inovatif. Pusat Unggulan Iptek (PUI) menjadi juara untuk kategori ini. Kategori kedua adalah stand tervaforit. Penghargaan ini diberikan kepada stand dengan antusiasme pengunjung terbesar. Penghargaan ini diberikan kepada stand Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten). Penghargaan ketiga adalah kategori stand terbaik. Kategori ini diberikan kepada instansi dengan stand yang mampu mengkomunikasikan produk-produknya dalam tampilan yang menarik. Penghargaan untuk kategori ini diberikan kepada stand Pemerintah Kota Surakarta. Ritech Expo 2016 dan seluruh rangkaian peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-21 telah berakhir. Namun semangat “Gelorakan Inovasi!” harus lah tetap membara dalam kerja nyata tingkatkan daya saing bangsa.(dzi/msf/rhi)

Media Perpustakaan

Keberadaan perpustakaan baik perpustakan umum, perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan sekolah, merupakan sarana untuk mendukung proses terbentuk masyarakat yang cerdas. Perpustakaan mempunyai posisi yang strategis dalam masyarakat pembelajar karena perpustakaan bertugas mengumpulkan mengelola dan menyediakan rekaman pengetahuan untuk dibaca dan dipelajari. Dengan perpustakaan akan tertolonglah masyarakat ekonomi lemah dalam mengakses informasi yang mereka perlukan. Dalam kasus ini perpustakaan dapat dikatakan menjadi sarana mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sehingga dapat dikatakan bahwa keberadaan perpustakaan juga merupakan penghayatan falsafah negara kita yaitu Pancasila (Sudarsono, 2006).

Guna menggambarkan perpustakaan sebagai sesuatu yang mempunyai peran penting di masyarakat atau bangsa, maka perpustakaan mendapatkan sebutan yang baik dan dapat dikatakan mempunyai makna yang tinggi, antara lain; perpustakaan gudangnya ilmu dan informasi, perpustakaan sebagai jantung perguruan tinggi, perpustakaan membangun kecerdasan bangsa, perpustakaan sebagai terminal informasi, perpustakaan membuka cakrawala pengetahuan dunia dan lain sebagainya.

Namun secara realita, masyarakat dalam memanfaatkan perpustakaan masih sangat rendah, baik itu di perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah atau perpustakaan khusus lainnya. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya apresiasi, kunjungan dan pemanfaatan fasilitas koleksi yang ada di perpustakaan.
Kondisi ini diperkuat dari hasil penelitian yang dilakukan Perpustakaan Nasional pada tahun 2001 tentang minat baca di kalangan siswa Sekolah Dasar di DKI, NTB dan Sulawesi Tengah dan daerah lainnya. Hasil penelitian tersebut menunjukkan, bahwa; (1) tidak pernah membaca, DKI 4%, NTB 4,6% dan Sulteng 2,7%, (2) membaca 1 jam, DKI 68,2%, NTB 66,5% dan Sulteng 71,2%, (3) membaca 2 jam, DKI 21,7%, NTB 18,3% dan Sulteng 20,1%, (4) membaca 3 jam, DKI 4,3%, NTB 4,9% dan Sulteng 3,4% dan (5) membaca lebih dari 3 jam, DKI 1,8%, NTB 5,7% dan Sulteng 1,8%, (Sudiarto, 2006).
Berdasar data diatas yang menjadi pertanyaan adalah apakah kecilnya pemanfaat perpustakaan terjadi karena kurangya promosi/sosialisasi kepada masyarakat tentang perpustakaan, ataukah karena faktor rendahnya literasi informasi masyarakat. Mencermati hal tersebut, maka dalam tulisan ini akan mengulas pada aspek literasi sebagai faktor dalam pemanfaatan perpustakaan.

Literasi Informasi

Beberapa pandang yang berkaitan dengan jenis literasi, yaitu literacy yang berkaitan dengan melek huruf, oral literacy ketidakpahaman isi yang disampaikan, technology literacy teknologi yang digunakan untuk mendukung literasi, kemudian aliteracy yang menggambarkan ketidak membacaan masyarakat. Menurut hemat penulis munculnya beberapa istilah yang berhubungan dengan literasi karena beberapa faktor :

Pertama, dilihat dari aspek bahasa. Penggunaan beberapa istilah literasi, merupakan cara yang digunakan untuk memudahkan dalam menggambarkan atau memaknai terhadap istilah tersebut mengenai makna yang terkandung dalam.

Kedua, dilihat dari aspek estimologi. Dimana perkembangan atau asal muasal istilah literasi merupakan suatu rangkian yang muncul dari istilah yang satu yang pada akhirnya digunakan untuk memaknai istilah yang lainnya.

Ketiga, dilihat dari aspek budaya. Beberapa istilah literasi menunjukan tingkat atau strata suatu masyakat. Dimana tingkat literasi digunakan untuk menggambarkan tingkat peradaban masyarakat suatu bangsa. Sebagai gambaran menunjuk bahwa negara-negara yang tergolong maju menunjungkan tingkat literasi masyarakatnya tinggi, jika dibandingkan dengan negara-negara miskin atau berkembang. Contoh aktul misalnya, sebagaimana yang diungkapkan Taufik Ismail dalam rapat kerja IPI, dalam presentasinya tentang tragedi nol buku. Dimana beliau memamparkan untuk tingkat siswa SLTA di Indonesia aliteracy NOL dibandingkan dengan starta yang sama di negara-negara maju. Sisi lain literasi dapat digunakan sebagai indikator-indikator kultur suatu masyarkat, dimana bagi negara yang kurang maju kebiasaan pada aspek oral dan mendengar lebih menonjol dibanding dengan kultur di negara-negara maju pada aspek literasi.

Pemahaman literasi informasi sampai saat ini belum ada istilah baku yang menjadi kesepakatan para ahli informasi. Banyak istilah yang digunakan untuk memahami literasi informasi, misalnya dengan pengertian “melek huruf”. Putu Laxman Pendit mengartikan literasi informasi sebagai keberaksaraan. Doyle (1994) dalam Saad (2006), mendeskripsikan information literate:

Person as one who; recognizes that accurate and complete information is the basis for intelligent decision making, recognizes the need for information, formulates questions based on information need, identifies potential sources of information, develops successful search strategies, accesses sources of information including computer-based and other technologies, evaluates information, organizes information for practical application, integrates new information into an existing body of knowledge, uses information in critical thinking and problem.

Hepworth (1999) dalam Irawati (2005) mendefinisikan information literacy sebagai proses memperoleh pengetahuan terhadap perilaku dan keahlian dalam bidang informasi, sebagai penentu utama dari cara manusia mengeksploitasi kenyataan, membangun hidup, bekerja, dan berkomunikasi dalam komunitas informasi. Sehingga dari beberapa definisi tersebut dapat dikatakan bahwa literasi informasi kemampuan seseorang untuk mengenali informasi yang dibutuhkan dan kemampuan untuk menemukan letak informasi tersebut, kemudian mengevaluasi dan juga mampu menggunakan informasi tersebut secara efektif.

Pedoman Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2016

Nomor : 254/B/SE/IV/2016

Perihal : Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2016

Yth.

Rektor Perguruan Tinggi Negeri Seluruh Indonesia
Direktur Politeknik Negeri Seluruh Indonesia
Ketua Sekolah Tinggi Negeri Seluruh Indonesia
Koordinator Kopertis Wilayah I s.d. XIV seluruh Indoenesia

Dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2016, dengan hormat kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:

Hari Pendidikan Nasional Tahun 2016 diperingati selama 1 (satu) bulan penuh pada bulan Mei sebagai Bulan Pendidikan dengan konsep gerakan bersama yang melibatkan semua unsur masyarakat dengan tema “Ayo Kerja, Inovatif dan Kompetitif”.

Rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2016 diawali dengan pelaksanaan upacara bendera secara serentak pada hari Senin, tanggal 2 Mei 2016 pkl 08.00 WIB di Kantor Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dan waktu yang sama (menyesuaikan dengan waktu setempat) di Perguruan Tinggi seluruh Indonesia, Politeknik Negeri seluruh Indonesia, Sekolah Tinggi seluruh Indonesia dan Koordinator Kopertis Wilayah I s.d. XIV seluruh Indonesia (lihat pedoman pelaksanaan upacara bendera terlampir).
Agar lebih memaknai dan menyemarakkan peringatan Hari Pendidikan Nasional dihimbau kepada masing-masing institusi untuk:

Melaksanakan kegiatan yang mendukung peningkatan Kompetensi Perguruan Tinggi melalui Publikasi dan Inovasi serta Memasang tanda/hiasan/spanduk dengan tema yang telah ditentukan. Pemasangan tanda/hiasan/spanduk diharapkan memperhatikan aspek-aspek kerapihan, kebersihan, keindahan, dan ketertiban lingkungan.
Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasama yang baik diucapkan terima kasih.

Buku atau Gadget

Surakarta – Sudah lama buku menjadi alat pertama pendidikan, alat menuliskan sesuatu informasi, dll. Umur buku mungkin ada yang masih mudah dan bahkan ada yang sanggat tua. Dahulu buku menjadi prioritas anak-anak pelajar, mahasiswa, bahkan dosen. Inu (45) memaparkan “Dulu buku merupakan satu-satunya sumber ilmu.” namun apakan di jaman modern ini buku menjadi sumber ilm satu-satunya, tidak. Di jaman modern sekarang buku hanyalah sebagian orang yang benar-benar membutuhkannya atau hobby. Karena di jaman modern saat ini mencari ilmu tidak harus dengan buku, namun kini bisa kita membuka internet lewat komputer, laptop, hp, tablet, dll.

Maka di jaman modern ini tak jarang kita lihat anak-anak SMA, SMP, SD, bahkan TK pun sudah dibekali hp, tablet, atau yang lainnya. Jika penggunaan alat-alat elektronik itu digunakan untuk belajar dan mencari ilmu atau sumber informasi mngkin tak salah. Namun kenyataanya jika anak-anak telah dibekali alat elektronik semacam itu mungkin hanya 2 dari 10 yang meggunakan alat tersebut untuk belajar dan menggali informasi.

Tidak ada salahnya membekali anak-anak terutama yang masih duduk di bangku SD bahkan TK dengan alat elektronik yang sanggat canggih di jaman sekarang. Namun alangkah baiknya jika sebagai orangtua mengajarkan dan selalu mendampingi anaknya untuk dapat belajar secara canggih dan menggali informasi secara cepat dengan menggunakan alat elektronik saat ini. #Tyara,Wulan